News

Dimasa Pendemi Covid-19, Ini Startegi Pemulihan Ekonomi oleh Disketapang

PEKANBARU - Pemandangan ekonomi hari ini yang telah berubah secara dramatis sejak awal Maret 2020. Pandemi global akibat Corona Virus Disease 2019 atau yang lebih dikenal Covid-19 telah menghantam seluruh sektor di seluruh dunia, tak terkecuali di Kota Pekanbaru. 

Pandemi ini berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Implikasinya telah berdampak antara lain terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi, penurunan penerimaan daerah, dan peningkatan belanja yang diperlukan untuk melakukan penyelamatan kesehatan dan perekonomian. Belanja pemerintah daerah meningkat untuk kesehatan, jaring pengaman sosial (social safetynet), serta pemulihan perekonomian termasuk untuk dunia usaha dan masyarakat yang terdampak.

“Pandemi Covid-19 telah membawa dampak krisis besar terhadap berbagai sektor, utamanya terhadap kesehatan dan ekonomi. Selain mitigasi terhadap sektor kesehatan dan ekonomi harus dipertahankan sebagai respon atas penurunan aktivitas masyarakat yang ekonominya terdampak secara langsung,” kata Wali Kota Pekanbaru Firdaus dalam Rapat Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) beberapa waktu lalu.  Hal ini menjadi perhatian serius Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Alek Kurniawan. Ia menerjemahkan arahan Datuk Bandar Setia Amanah tersebut dengan berbagai kebijakan strategis di bidang ketahanan pangan.

“Selain mitigasi di sektor kesehatan, sektor ekonomi harus dipertahankan sebagai respon atas penurunan aktivitas masyarakat yang ekonominya terdampak secara langsung. Setidaknya, itulah arahan dari wali kota kepada kami dan tim yang tergabung dalam tim PEN Pekanbaru," ungkapnya. 

Alek Kurniawan merupakan nakhoda Disketapang Pekanbaru. Dalam tim PEN tersebut, Alek dipercayai sebagai koordinator bidang Pertanian, Peternakan, dan Ketahanan Pangan menyampaikan kebijakan-kebijakan strategis Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Disketapang. Alek menyebutkan bahwa dalam konteks keberlanjutan ekonomi di suatu daerah “secara sederhana” dapat diwujudkan melalui optimalisasi investasi, belanja pemerintah, konsumsi masyarakat, dan ekspor-impor. Hal yang paling logis untuk keberlangsungan hidup ekonomi dari pilihan yang ada saat ini adalah optimalisasi dari belanja pemerintah karena tiga indikator lainnya.

Konsumsi masyarakat dan ekspor impor terus melambat dan tumbuh negatif. Artinya, instrumen belanja pemerintah menjadi lokomotif utama sebagai penggerak ekonomi. Namun di sisi lain, ada tekanan pada penerimaan negara atau daerah untuk penyediaan dananya. Karena, setiap belanja yang dikeluarkan pemerintah tentu membutuhkan sumber pendanaan yang tidak sedikit. “Kita dalam dilematis yang butuh ketelitian dan kesabaran ekstra," ucap Alek. 

Di satu sisi, pemerintah menggenjot optimalisasi belanja pemerintah untuk perputaran ekonomi. Namun di sisi lainnya, pemerintah juga harus melakukan optimalisasi penyediaan dana untuk belanja dimaksud. Makanya, prioritas belanja pemerintah harus yang bermuara kepada Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) saat ini. Alek menegaskan bahwa ada atau tidak adanya Covid-19, sebenarnya isu-isu ketahanan pangan selalu menjadi  yang strategis. Perlakuan kepada sektor pangan harus memadai kalau tidak ingin “pangan berdaulat” dikatakan hanya sebatas slogan. 

Pasalnya, pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama. Pemenuhan kebutuhan pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin dalam konstitusi sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Langkah-langkah kongkret strategisnya di tengah segala keterbatasan dalam mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional/PEN dalam tiga kelompok besar sesuai Susunan Organisasi Tata Kerja (SOTK) Disketapang yaitu ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, serta konsumsi dan keamanan pangan.

Dalam tugas pokok dan fungsi (tupoksi) ketersediaan dan kerawanan pangan, Alek bersama tim Disketapang dan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya terus menggesa optimalisasi belanja kegiatan-kegiatan strategis di antaranya, peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dan pelaku usaha pangan. Kegiatan ini diwujudkan melalui Pemberdayaan Masyarakat lewat Pengembangan Kawasan Mandiri Pangan dan Pekarangan Pangan Lestari (P2L).

Kenyataan yang harus diakui, sebagian besar sektor pertanian dibangun oleh petani dengan skala usaha yang relatif kecil. Keadaan pelaku usaha pertanian tersebut semakin bertambah jumlahnya setiap tahun. Tingkat kesejahteraan petani juga masih rendah. Skala usaha pertanian yang kecil menghambat petani meningkatkan pendapatannya. Sehingga, petani sulit keluar dari lingkaran kemiskinan. Peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dan pelaku usaha pangan mutlak harus dilakukan. 

Program strategis yang telah dilakukan di Disketapang dalam rangka mengoptimalkan sektor ini adalah melalui kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dan Pengembangan Kawasan Mandiri Pangan (KAMAPAN). Optimalisasi kegiatan P2L diarahkan melalui penyaluran stimulus bantuan untuk aktualisasi pemanfaatan lahan pekarangan secara optimal dalam pengembangan ketersediaan pangan yang beraneka ragam pada setiap rumah tangga dalam suatu kawasan. 

Objek penerima manfaat adalah kelompok wanita tani. Dalam skala yang agak besar, Disketapang juga turut menyukseskan program kawasan mandiri pangan. Kawasan mandiri pangan adalah kawasan yang dibangun dengan melibatkan keterwakilan masyarakat dalam rangka meningkatkan pengelolaan kelembagaan masyarakat untuk ketahanan pangan masyarakat. Upaya kegiatan berupa pemberian bibit tanaman, infrastruktur dan belanja pendukung kegiatan penumbuhan terhadap Kelompok Tani (KT). 

Dalam kurun dua tahun terakhir, kegiatan ini baru mampu menyentuh 39 Kelompok Tani (KT)/Kelompok Wanita Tani (KWT). Sementara, jumlah Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani yang ada di Kota Pekanbaru berdasarkan aplikasi SIMLUHTAN Kementan sekitar 400 dengan rata-rata anggota per kelompok 25-30 orang. Dana ini bersumber dari APBD dengan penguatan dari Dana Dana Insentif Daerah (DID) tambahan dan Dana Alokasi Khusus (DAK) non fisik Ketahanan Pangan dan Pertanian.

“Artinya, kami baru dapat memberi stimulus kepada 10 persen dari total jumlah kelompok tani/kelompok wanita tani,” lanjut Alek. 

Di era globalisasi ini, hanya pelaku bisnis yang efisienlah yang akan memenangkan persaingan. Jika sebagian besar, pelaku bisnis pertanian di Indonesia adalah para petani dan pengusaha kecil yang terhimpun dalam organisasi ekonomi yang kuat, maka akan memperoleh manfaat (kesejahteraan) tidak hanya bagi dirinya. Melainkan, kesejahteraan juga bagi masyarakat dan bangsa.

Pemberdayaan kelembagaan kelompok tani merupakan serangkaian upaya yang sistematis, konsisten, dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya adaptasi dan inovasi petani. Pemberdayaan kelompok tani memanfaatkan teknologi secara optimal dalam bingkai aturan main yang ada untuk mencapai tujuan bersama secara lebih efisien. Terdapat tiga tahap (fase) dalam mewujudkan kesejahteraan petani. Pertama, pemberdayaan organisasi petani yakni tahap pemberdayaan kelembagaan petani (pengembangan SDM, pengembangan teknologi dan rekayasa aturan main organisasi). Kedua, pengembangan jaringan kemitraan bisnis (network business). Ketiga, peningkatan daya saing (competitiveness). 

Walaupun dalam keterbatasan, Alek menyebutkan bahwa program strategis ini telah diterapkan oleh Outlet Puan Berseri dan Pekan Pangan Madani. Program ini guna mendorong pemanfaatan sumber daya pangan lokal melalui konsumsi pangan lokal dalam kegiatan-kegiatan di instansi pemerintahan dan instansi lainnya sebagaimana yang tertuang dalam Instruksi Wali Kota Pekanbaru Nomor 521/DKP/2432 Tahun 2020.

Sehingga, APBN ataupun APBD tersalurkan kembali secara langsung kepada masyarakat utamanya kepada pelaku usaha pertanian dan pangan. Wujud nyatanya ada pada tupoksi distribusi dan cadangan pangan yang direalisasikan dengan kegiatan revitalisasi dan penguatan kelembagaan petani dan pelaku usaha pangan melalui optimalisasi pemanfaatan Outlet Pangan Puan Berseri dan Kegiatan Pekan Pangan Madani. Disketapang juga mendukung penuh pembentukan PT Sarana Pangan Madani (SPM) sebagai BUMD. Ke depannya, Alek juga mendorong terciptanya pengembangan korporasi usaha tani hulu hilir.

"Pada distribusi dan cadangan pangan, kami juga berusaha maksimal melalui kegiatan revitalisasi kelembagaan pangan melalui Outlet Pangan Puan Berseri dan Pekan Pangan Madani yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama PPM. Slogan kami adalah 'Petani Untung, Masyarakat Beruntung'. Kami juga mendukung penuh terbentuknya PT SPM menjadi BUMD Kota Pekanbaru," sebut Alek. 

Outlet Pangan “Puan Berseri” (Pemasaran Usaha Pangan Bersama Secara Lestari) pada dasarnya didirikan untuk menyediakan bahan pangan dari produk segar dan produk olahan yang terjangkau bagi masyarakat. Produk ini disediakan langsung oleh binaan Disketapang melalui KWT dan KT serta UMKM di bidang pangan, Bulog, dan, vendor lainnya. 

Sementara, Pekan Pangan Madani (PPM) yaitu sarana tempat berjualan (market place) penjualan produk-produk pangan segar dan olahan dari para Kelompok Tani (KT), Kelompok Wanita Tani (KWT), UMKM, dan pegiat usaha pangan lainnya yang ditaja secara rutin setiap pekannya (hari Kamis pagi) di Kantor Dinas Ketahanan Pangan pukul 08.00-12.00 WIB. Kemudian, Disketapang juga melakukan optimalisasi kegiatan pengadaan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) dalam hal ini adalah komoditas beras. 

Hal ini dalam rangka menindaklanjuti Surat Menteri Pertanian RI Nomor 91/KN.130/M/5/2020 tentang  Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah juncto Instuksi Menteri Dalam Negeri Nomor 2 tahun 2020 tentang Menjaga Ketahanan Pangan pada saat tanggap darurat pandemic Covid-19. Instruksi ini terkait pengadaan CPPD dalam rangka peningkatan kesiapan pangan untuk menghadapi dampak pandemi Covid-19. Laporannya secara berkala dilaporkan kepada Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

“Kami ada CPPD untuk peningkatan kesiapan pangan untuk menghadapi dampak pandemi Covid-19. Walaupun belum memenuhi standar (kuota yang diharapkan nasional), tapi kami telah menanggapi isu ini di awal dengan adanya Perwako sebagai payung hukumnya," sebut Alek. 

Eks Sekretaris DPRD Kota Pekanbaru ini melanjutkan usaha yang dioptimalkan lainnya melalui pengawasan keamanan pangan segar. Memang saat ini, Disketapang terkendala pendanaan yang belum memadai dan belum adanya laboratorium. Sehingga, sampel yang diperiksa dalam jumlah terbatas. Pengawasan yang dilakukan dengan melakukan uji residu pestisida pangan segar asal tumbuhan menggunakan rapid test kit yang bahan (sampelnya) diperoleh dari sejumlah pasar. Selain itu, proyek-proyek strategis yang sudah dituntaskan antara lain, dokumen Grand Master Plan Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru dan Grand Master Plan Kawasan siCANTIG (Lokasi Cadangan Pangan Terintegrasi). Dua dokumen induk ini akan menjadi acuan dalam pengembangan kegiatan ketahanan pangan ke depannya. 

Pelaksanaan kegiatan strategis penguatan lumbung pangan yang memiliki nilai edukasi dan entertainment (edutainment). siCANTIG merupakan suatu bentuk usaha Pemko Pekanbaru dalam memberikan edukasi dan sosialisasi sekaligus infrastruktur wisata pertanian yang mengedepan pembelajaran (edukasi) serta wisata agro yang menarik (entertainment). Alek menerangkan bahwa luas kawasan dimaksud adalah 5 hektare yang terletak di Kelurahan Agrowisata, Kecamatan Rumbai. Kawasan siCANTIG merupakan kawasan agrowisata, lokasi pembelajaran budi daya pertanian, peternakan dan perikanan. Di tengah kawasan dibuat miniatur Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), lumbung pangan, dan pengolahan pangan.

“Sesuai semangat edutainment, kami berharap lewat siCANTIG ini dapat memfasilitasi kegiatan pemberdayaan masyarakat yang memadai dan menyentuh berbagai aspek strategis seperti agrowisata, pendidikan, budi daya pertanian dan perikanan, serta yang tak kalah penting itu adalah hiburan alam yang menarik,” terang Alek. 

Semua kegiatan-kegiatan tersebut harus terdokumentasi dengan baik dan memadai. Makanya, inovasi dengan pendekatan teknologi informasi dalam layanan publik juga harus diperbaiki. Hal ini yang pada akhirnya melahirkan inovasi yang dinamakan dengan sebutan siTANGAN alias Sistem Manajemen Informasi Ketahanan Pangan. Sistem Manajemen Informasi Pangan ini dibangun untuk menyediakan data dan informasi pangan yang valid dan terkini secara cepat melalui teknologi informasi. Dengan begitu, institusi maupun masyarakat dimudahkan mengakses informasi pangan tersebut dengan cepat.

“Kami punya rumah virtual yang kami sebut dengan siTANGAN. Kami akan mengisi rumah virtual ini dengan data-data strategis di ketahanan pangan," jelasnya. 

Di kesempatan berikutnya, Alek juga sangat mengapresiasi langkah-langkah yang telah dilakukan Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Pekanbaru yang juga ikut berpartisipasi melakukan pendampingan, penyuluhan, pemberdayaan masyarakat dengan nilai stimulus dalam skala yang lebih besar lagi. Mudah-mudahan, Distankan mampu bersinergi dengan perannya masing-masing sehingga tidak ada mata rantai yang putus dalam menciptakan ketahanan pangan yang terintegrasi dari hulu ke hilirnya.(Adv)




Loading...


[Ikuti IDNJurnal.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813-6567-1385
atau email ke alamat : [email protected] / [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan IDNJurnal.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...