News

Mikroorganisme Pengaruhi Keberhasilan Restorasi Gambut

PEKANBARU - Pusat Studi Bencana (PSB) LPPM Universitas Riau kembali menaja sebuah diskusi ilmiah seputar gambut (“Peat Circle”). Acara yang diselenggarakan di Aula LPPM UNRI ini berlangsung Jumat (26/7/2019), menghadirkan Yuana Nurulita PhD, Dosen di Jurusan Kimia, FMIPA UNRI, alumnus RMIT University di Melbourne, Australia, sebagai narasumber.

Dijelaskannya, gambut merupakan bahan organik, khususnya yang berasal dari tumbuhan, yang tidak terdekomposisi secara sempurna. Proses dekomposisi yang tidak sempurna ini disebabkan terutama sekali oleh kondisi lingkungan yang kekurangan oksigen, karena proses ini adalah proses aerobik, artinya membutuhkan oksigen. Genangan air menciptakan kondisi hipoksik atau kekurangan oksigen.

“Organisme yang paling berperanan dalam proses dekomposisi adalah mikroorganisme, yang terdiri dari bakteri dan fungi atau jamur. Apabila tersedia oksigen cukup, kedua golongan organisme ini bisa mengurai kayu serta serasah dedaunan dan membebaskan sebagian karbon sebagai karbondioksida (CO2) ke atmosfir,” papar Yuana.

Berdasarkan sampel gambut dari sejumlah lokasi di hamparan lansekap Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Yuana telah melakukan berbagai analisis molekuler di RMIT University untuk menyusun disertasinya. 

Dengan membandingkan kondisi gambut di bawah hutan alam yang masih berawa dengan kondisi gambut di bawah kebun kelapa sawit dan lahan gambut yang direstorasi, Yuana memperoleh kesimpulan bahwa penyusutan muka air gambut menciptakan kondisi aerobik yang membuat berbagai mikroorganisme dalam gambut memperoleh keleluasaan untuk mendekomposisikan gambut. Hal ini dibuktikan oleh tingginya aktifitas enzimatis bakteri-bakteri yang terdapat dalam gambut.

“Oleh karenanya, upaya restorasi gambut memang tidak cukup hanya dengan menanaminya kembali, melainkan juga harus mengembalikan kembali kondisi basah gambut agar kembali bersifat hipoksik. Kondisi ini selain akan menekan proses konsumsi gambut oleh mikroorganisme sekaligus juga dapat mereduksi potensi gambut terbakar,” terangnya.

Temuan Yuana yang sudah dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional bergengsi Agriculture, Ecosystem & Environment tersebut juga memberikan bukti bagaimana metode biologi molekuler dapat digunakan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan restorasi gambut, khususnya dengan melihat keanekaragaman mikroorganisme beserta aktifitas enzimatis mereka. Sayang sekali, evaluasi terhadap proses restorasi ini dilakukan ketika upaya restorasi baru berlangsung 3,5 tahun, sehingga belum terlihat adanya pemulihan kondisi gambut yang signifikan. Atas dasar ini, Yuana berharap, bisa meninjau kembali proses ini setidaknya hingga tahun ke 10.  

Paparan Yuana mengundang minat banyak hadirin untuk bertanya seputar kontroversi antara upaya konservasi gambut dan reklamasi gambut untuk budidaya. Drainasi dan ameliorasi gambut dengan kapur maupun pupuk boleh jadi memberikan dampak positif bagi tanaman yang dibudidayakan, tetapi di sisi lain dapat memicu aktifitas mikroorganisme yang menguraikan gambut, sehingga emisi karbon juga meningkat.*




Loading...


[Ikuti IDNJurnal.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813-6567-1385
atau email ke alamat : [email protected] / [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan IDNJurnal.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...