Berbuka

Bubur India Hidangan Khas Berbuka di Masjid Pekojan

Bubur India yang disajikan di Semarang. (sumber;internet)

SEMARANG - Masjid Jami Pekojan Semarang masih mempertahankan hidangan berbuka puasa khasnya, yakni bubur india yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.

"Resep bubur india ini sudah ada sejak tahun 1980-an untuk hidangan berbuka bagi warga masyarakat," kata Ali Baharun (60), generasi keempat pembuat bubur india di Semarang, Ahad (20/5/2018).

Dijelaskannya, bubur dimasak menggunakan kuali dari tembaga dengan kayu bakar, sementara bumbu yang digunakan adalah rempah-rempah, seperti jahe, kayu manis, serai, dan daun salam.

Menurut dia, bubur india sebenarnya bukan khas hidangan dari India, tetapi hanya sebutan terhadap tradisi yang sudah berlangsung lama yang berkaitan dengan pedagang dari India.

Dulu, kata dia, para pedagang dari India atau musafir kerap berbuka di masjid dengan membawa bubur sendiri, kemudian takmir masjid kala itu bekerja sama dengan pedagang untuk menghidangkan bubur untuk berbuka.

"Selepas dhuhur, bubur dimasak, lalu setelah Ashar sudah masak dan mulai dituangkan di mangkuk untuk dihidangkan. Siapapun yang datang boleh menyantap, boleh juga membawa pulang," ungkapnya.

Diakuinya, citarasa khas bubur india tetap bertahan selama ratusan tahun meski lauk yang dipakai sebagai pelengkap selalu berubah sesuai dengan donatur yang membelikannya.

"Kuah dan lauknya bisa saja berbeda setiap harinya, tetapi citarasanya bubur indianya masih tetap ada. Resepnya juga masih sama, cara memasak dan bahan memasaknya juga sama," katanya.

Pernah, kata dia, bubur india itu dimasak menggunakan elpiji, tetapi tidak matang sempurna, termasuk kuali yang jika menggunakan selain yang terbuat dari tembaga akan memengaruhi.

Ali mengaku akan berusaha menjaga tradisi yang menjadi ciri khas masjid yang dibangun pada 1309 Hijriah atau 1878 Masehi itu meski sekarang sudah tidak tinggal lagi di dekat masjid.

"Saya sudah pindah ke daerah Pucanggading, Semarang, tidak lagi tinggal di dekat sini. Namun, ini (bubur india, red.) akan diturunkan kepada siapa saja yang mau meneruskan tradisi," katanya.

Menjelang waktu berbuka puasa, para takmir dan pengurus masjid menyusun rapi mangkuk berisi bubur india beserta minuman hangat, plus camilan, seperti buah kurma dan jajanan.

Sementara itu, Rozikan (23), salah satu pengunjung mengaku pertama kalinya berbuka puasa di Masjid Jami Pekojan itu karena tertarik dengan kekhasannya yang menghidangkan bubur india.

Tak sendiri, ia mengajak tiga kawannya untuk mencicipi kelezatan bubur india yang sudah berlangsung turun temurun, dan hanya ditemuinya di masjid yang terletak di Jalan Petolongan, Semarang, itu.

"Baru sekali ini. Beberapa kali baca di berita katanya kalau setiap Ramadhan di sini masak bubur india. Penasaran rasanya kayak apa. Ternyata enak meski porsinya besar sekali," ungkapnya.*




Loading...


[Ikuti IDNJurnal.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813-6567-1385
atau email ke alamat : [email protected] / [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan IDNJurnal.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...